"Aku gak peduli kamu itu seperti apa dan bagaimana, Aku sayang sama kamu apa adanya. Jangan tinggalin Aku yah..."
Jakarta, 23 Desember 2013
"Aku sayang sama kamu, orang yang selama ini perhatian dan sayang sama aku. Bukan Yiko".
Gadis manis berkaca mata minus dan berlesung pipi itu kini tengah merapikan meja kerjanya, Ia selalu terbayang oleh ucapan Fahriano. Pria yang saat ini telah menjadi kekasihnya. Sejak pertama mengenal Fahriano, Erin belum pernah bertemu dengannya. Setelah semua kejadian itu berlalu, akhirnya hari ini Erin setuju untuk bertemu dengan Fahriano kekasihnya.
Entah Ia harus senang atau sedih dengan keadaan ini. Erin hanya diam menatap langit senja dari ruang kerjanya.
"Erin? Erin Luciana?" Panggil seseorang dari belakangnya.
"Ya?" Sahutnya.
Seorang pria mengambil posisi duduk didepan Erin. Harya Saputra. Ia adalah kekasih Erin yang baru ditemuinya setelah dua bulan berpacaran.
Erin terdiam memandang Harya, wajahnya memerah.
"Kok diem rin? Kenapa?" Tanya Harya membuka pembicaraan.
"A,ah nggak kok" Jawabnya agak terbata disusul dengan senyuman.
Setelah pertemuan hari itu, Erin melalui hari-harinya dengan penuh suka cita. Tak lepas-lepas senyum dibibir mungilnya.
sampai hari itu tiba, seminggu setelah pertemuan dengannya Harya menghilang tanpa kabar. Ia menunggu sampai hampir dua bulan, namun Harya kunjung tak memberi kabar. Hal ini membuat Erin kecewa. Dihari penantiannya, Harya mengirim sebuah pesan singkat pada Erin.
"Maaf 'rin, aku gak bisa lanjutin hubungan ini. Kita putus yah."
Kata-kata itu membuat Erin terpuruk cukup lama, menyisakan luka
mendalam dihatinya. Erin harus kehilangan pria yang sudah Ia cintai dan
sayangi.
"Mba Erin..." Panggil seseorang disampingnya.
Erin tersadar dari lamunannya. Ia menyeka air mata yang tanpa sadar sudah mengalir dipipinya.
Bella Asmarani mendekati Erin. Gadis manis berjilbab itu teman kerja
Erin disebuah perusahaan jasa yang terletak dijalan sudirman, Jakarta.
"Kok ngelamun? Katanya mau pulang cepet terus ketemu sama Fahriano?"
Tegur Bella sambil cengar-cengir."Iya Bella sayang, ini aku lagi
siap-siap mau pulang." Jawab Erin manis.
Erin meninggalkan Bella diruang kerja. Jari jemari Erin gemetar saat
menekan tombol angka satu dilift. Erin sibuk menata rambut dan
pakaiannya dicermin lift, Ia gugup.
Pintu lift terbuka, Erin menghela nafas panjang. Ia kini tengah menunggu
didepan kantor bersama orang-orang yang hendak pulang kerumah mereka
setelah seharian ini bekerja.
Tiba-tiba sebuah mobil suzuki xover putih berhenti tepat didepan Erin. Sesaat kemudian ponselnya bergetar.
"Ya, kamu dimana?" Jawab Erin.
"Aku didalam mobil xover putih, platnya B 2007 GF" Sahut Fahriano.
Erin terdiam, Ia memicingkan matanya untuk melihat plat mobil yang ada dihadapannya.
"O,oh iya aku liat..." Kata Erin kemudian setelah memastikan plat mobil
yang ada dihadapannya serupa dengan yang tadi Fahriano sebutkan.
"Ya sudah buruan masuk! Ini dipinggir jalan gak enak nanti diklakson
mobil lain dibelakang." Seru Fahriano, lalu Ia mematikan telponnya.
Dengan ragu Erin membuka pintu dan masuk kedalam mobil, Fahriano
langsung memacu mobilnya. Mereka terdiam. Yang terdengar hanya
suara-suara kendaraan diluar dan lantunan lagu dari Westlife yang
berjudul More Than Word.
"Aku gak mau kejadian dengan Harya terulang kembali." Erin membatin.
Kini pandangannya jauh menerawang kelangit Jakarta yang kini sudah
hampir gelap. Sesekali Ia memandang wajah Fahriano, Fahriano yang sejak
tadi serius perhatikan jalan tiba-tiba memalingkan pandangannya ke Erin.
Kemudian Ia tersenyum.
"Kenapa 'rin?" Tanya Fahriano mengawali pembicaraan.
"ngg... gak apa-apa kok" Erin tersenyum, Ia tengah berusaha mati-matian
mencari topik pembicaraan yang bisa membuat mereka nyaman dan larut
dalam obrolan panjang.
"gak apa-apa tapi dari tadi diem terus" Lanjut Fahriano.
Ucapan Fahriano membuat Erin tersenyum, begitupun dengan Fahriano. Mereka tersenyum.
"Kita mau makan dimana?" Tanya Fahriano setelah mereka berhenti tersenyum.
"ngg... kamu maunya makan apa?"
"aku ikut kamu aja deh".
Fahriano memandang wajah Erin sekilas, mereka kembali terdiam
Fahriano tampak menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya dijok ketika berhenti dilampu merah. Suasana masih hening, kini terlantun lagu Sheila on 7 dengan judul Mudah Saja. Erin semakin bingung dengan keadaan ini. Ia hanya tertunduk dan diam.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Fahriano sekali lagi.
"Terserah, kamu maunya makan apa?" Jawab Erin pasrah.
Fahriano membelokan arah mobilnya kesuatu daerah yang terkenal dengan tempat-tempat kulinernya, Ia memarkirkan mobilnya dan mengajak Erin menelusuri tempat-tempat itu. Erin mengikuti Fahriano dari belakang, kemudian sampailah mereka didepan tenda yang menjual sate.
Tak banyak yang mereka bicarakan saat makan, setelah makan Fahriano mengantar Erin pulang sampai didepan rumahnya.
Esok harinya Fahriano mengirim pesan singkat pada Erin.
"Tuhkan bener sayang kemarin kamu diem aja hehe sipit"
Erin tersenyum membaca pesan dari Fahriano, Bella yang menyadari hal itu langsung mendekati Erin.
"Cieeee mba Erin abis ketemu sama Fahriano seneng banget sampe senyum-senyum sendiri" Kata Bella sambil mengintip ponsel Erin.
"Ih Bella apaan sih kamu" Sahut Erin cengar-cengir.
Hari ini wajah Erin berseri-seri dan senyum bahagianya selalu terpancar diwajahnya. Pulang kerja hari ini tidak seperti biasanya. Erin tidak langsung pulang kerumah, tapi Ia pergi kesuatu tempat dibilangan Jakarta Selatan untuk menemui seseorang. Seorang teman yang sesungguhnya tidak ingin Ia temui lagi.
Sesampainya disana Erin melihat perempuan itu sudah menunggunya. Tanpa sapaan berarti, Erin langsung duduk dikursi yang ada dihadapan perempuan itu.
"Kamu mau apa lagi?" Tanya Erin ketus.
"Santai dong 'rin, oh iya gimana kemarin ketemu sama Fahrianonya? Sukses? Dia percaya kan sama kamu?" Ujar perempuan chinesse berrambut merah ini.
"Iya." Jawab Erin singkat.
"Oke, bagus deh kalau gitu. Gini ya 'rin, sekarang aku akan bilang ke Fahriano kalau kamu marah sama dia karna dia tuduh kamu itu nyamar jadi aku dan kalau Fahriano telpon kamu, kamu harus bilang kalau kamu mau pindah rumah dan kerja kebandung. Ngerti kan?!" Jelas perempuan yang memiliki nama Yiko ini.
"Aku gak mau."
"Please dong Erin, jadi nanti aku akan ajak dia ketemu kamu."
Erin terdiam, tanpa pamit Ia pergi meninggalkan Yiko sendiri.
Sesampainya dirumah, Erin menatap foto Fahriano.
Jakarta, 28 Desember 2013
"Aku gak peduli kamu itu seperti apa dan bagaimana, aku sayang sama kamu apa adanya. Pokoknya kalau aku gak bilang putus berarti kita gak putus!" Ucap Fahriano.
Drrrrrrrrrrtttttttttt... Drrrrrrrrrttttttttt...
Lamunan Erin buyar ketika menyadari ada yang menghubunginya, Ia tercengang ketika melihat nama 'Fahriano' yang muncul pada layar ponselnya. Ia terdiam sesaat. Memikirkan ucapan Yiko sore tadi.
Erin mngacuhkan dua panggilan dari Fahriano, panggilan ketiga Erin menghela nafas panjang dan menekan flip tombol answer.
"Ya, kenapa?"
"rin' kamu marah sama aku gara-gara waktu itu aku masih tuduh kamu itu Yiko?"
"ngg... Kata siapa?"
"Yiko yang bilang tadi sama aku. Maafin aku ya 'rin..."
Erin hanya diam, tak dapat bicara apa-apa. Kemudian Ia menekan flip End dari ponselnya. Fahriano kembali mencoba menghubungi Erin, tapi diabaikan.
"Kalau bukan karena kamu sedang mendekati Yiko, pasti kamu gak akan lakuin semua ini ke aku." Batin Erin. Wajahnya tertunduk.
Esok harinya Erin tidak pergi kekantor, Ia sibuk packing dirumah. Ternyata Ia akan benar-benar pergi kebandung malam ini.
Drrrrrttttttt.... Drrrrrrrrrtttttttttt....
Perasaan Erin semakin kacau ketika melihat nama 'Yiko' yang muncul dilayar ponselnya. Dengan berat hati, Erin menekan flip answer.
"Erin, sore nanti Fahriano mau ajak kamu ketemu dan kamu harus mau. Harus mau!" Ujar Yiko tanpa memberi kesempatan pada Erin untuk bicara. Telpon terputus.
Sorepun tiba, pukul 17:47 Fahriano menghubungi Erin dan mengajaknya bertemu disebuah restoran fast food didekat rumah Erin.
Sesampainya Erin direstoran fast food yang memiliki lambang M itu, ternyata Erin tidak dapat menemukan Fahriano karna ramainya orang disana. Erin melihat Fahriano duduk dimeja tengah, Ia terlihat sedang melahap sebuah cheese burger dan soft drink. Erin hanya melewatinya dan keluar dari ruangan yang ramai itu.
Erin duduk dikursi luar dan mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Fahriano.
"Aku sdh sampai, skrg aku duduk dibangku luar krn didlm ramai bgt."
10 menit kemudian Erin melihat Fahriano keluar membawa burger dan soft drinknya, lallu menghampiri Erin.
"Kamu gak makan dulu 'rin?"
"Gak usah makasih, aku masih kenyang"
"emm... kamu beneran mau kebandung malam ini?"
"Iya."
"Kenapa harus kebandung? Memang disini kenapa?"
"Gak apa-apa sih, aku cuma mau cari suasana baru aja."
"eumm... oh iya aku janjian sama Yiko juga loh disini."
"oh gitu. Yaudah aku pulang yah, aku masih harus packing."
"Bentar 'rin, aku telpon Yiko dulu yah"
Fahriano mengambil ponselnya dan menghubungi Yiko. Tak lama kemudian Yiko muncul dihadapan mereka. Erin tak bisa berkata apa-apa, lidahnya kelu.
"Kamu udah maafin Fahriano kan 'rin?" Sahut Yiko sambil merangkul Fahriano yang tengah duduk disamping Erin.
"Ya." Jawab Erin singkat dan Ia bangkit dari duduknya meninggalkan Fahriano dengan Yiko.
Kini perasaannya hancur, cinta dan sayang yang mulai tumbuh dihati Erin kini harus rusak dan harus merasakan kecewa untuk yang kedua kalinya.
Berkali-kali Erin melihat ponselnya dan berharap Fahriano menghubunginya, tapi kenyataan pahit yang harus Ia terima. Tak ada satupun pesan atau panggilan dari Fahriano kekasihnya.
Jakarta, 20 Januari 2014
Erin membuka buku agendanya. Ia menemukan foto Fahriano disana, Ia memandangi foto itu sesaat. Air matanya mengalir dipipi putihnya.
"...Pokoknya kalau aku gak bilang putus berarti kita gak putus. Kamu jangan bilang gitu lagi ya?!"
Mengingat kata-kata itu tangis Erin pecah, Ia menangis histeris didalam kamarnya sambil menatap foto Fahriano. Bahkan sampai saat ini pun Fahriano tidak memberikan kabar apapun pada Erin.
"Kamu jahat Fahriano, ternyata kamu memang gak pernah sayang sama aku. Kamu berbuat seperti itu semata-mata karna hanya ingin mendapatkan Yiko melalui aku kan?"
Erin mengirim pesan itu kesemua akun milik Fahriano dan ke nomor ponselnya. Namun, balasan yang sangat menyakitkan yang diterima oleh Erin dari nomor ponsel Fahriano.
"Iya memang aku jahat, aku manfaatin kamu untuk dapatkan Yiko. Sekarang jangan ganggu aku lagi ya Mbak, aku udah punya pacar baru."
Tangis Erin semakin menjadi-jadi. Sejak hari itu Erin memutuskan untuk melupakan Fahriano dan menghapus nama Fahriano dan Yiko dalam daftar orang yang pernah ada dalam kehidupannya. Namun, Ia tidak pernah bisa menghapus nama Fahriano dari hidupnya. Semakin Ia berkeras ingin melupakan Fahriano, Justru kenangan-kenangan bersama pria itu nampak semakin jelas.
Fahriano tampak menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya dijok ketika berhenti dilampu merah. Suasana masih hening, kini terlantun lagu Sheila on 7 dengan judul Mudah Saja. Erin semakin bingung dengan keadaan ini. Ia hanya tertunduk dan diam.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Fahriano sekali lagi.
"Terserah, kamu maunya makan apa?" Jawab Erin pasrah.
Fahriano membelokan arah mobilnya kesuatu daerah yang terkenal dengan tempat-tempat kulinernya, Ia memarkirkan mobilnya dan mengajak Erin menelusuri tempat-tempat itu. Erin mengikuti Fahriano dari belakang, kemudian sampailah mereka didepan tenda yang menjual sate.
Tak banyak yang mereka bicarakan saat makan, setelah makan Fahriano mengantar Erin pulang sampai didepan rumahnya.
Esok harinya Fahriano mengirim pesan singkat pada Erin.
"Tuhkan bener sayang kemarin kamu diem aja hehe sipit"
Erin tersenyum membaca pesan dari Fahriano, Bella yang menyadari hal itu langsung mendekati Erin.
"Cieeee mba Erin abis ketemu sama Fahriano seneng banget sampe senyum-senyum sendiri" Kata Bella sambil mengintip ponsel Erin.
"Ih Bella apaan sih kamu" Sahut Erin cengar-cengir.
Hari ini wajah Erin berseri-seri dan senyum bahagianya selalu terpancar diwajahnya. Pulang kerja hari ini tidak seperti biasanya. Erin tidak langsung pulang kerumah, tapi Ia pergi kesuatu tempat dibilangan Jakarta Selatan untuk menemui seseorang. Seorang teman yang sesungguhnya tidak ingin Ia temui lagi.
Sesampainya disana Erin melihat perempuan itu sudah menunggunya. Tanpa sapaan berarti, Erin langsung duduk dikursi yang ada dihadapan perempuan itu.
"Kamu mau apa lagi?" Tanya Erin ketus.
"Santai dong 'rin, oh iya gimana kemarin ketemu sama Fahrianonya? Sukses? Dia percaya kan sama kamu?" Ujar perempuan chinesse berrambut merah ini.
"Iya." Jawab Erin singkat.
"Oke, bagus deh kalau gitu. Gini ya 'rin, sekarang aku akan bilang ke Fahriano kalau kamu marah sama dia karna dia tuduh kamu itu nyamar jadi aku dan kalau Fahriano telpon kamu, kamu harus bilang kalau kamu mau pindah rumah dan kerja kebandung. Ngerti kan?!" Jelas perempuan yang memiliki nama Yiko ini.
"Aku gak mau."
"Please dong Erin, jadi nanti aku akan ajak dia ketemu kamu."
Erin terdiam, tanpa pamit Ia pergi meninggalkan Yiko sendiri.
Sesampainya dirumah, Erin menatap foto Fahriano.
Jakarta, 28 Desember 2013
"Aku gak peduli kamu itu seperti apa dan bagaimana, aku sayang sama kamu apa adanya. Pokoknya kalau aku gak bilang putus berarti kita gak putus!" Ucap Fahriano.
Drrrrrrrrrrtttttttttt... Drrrrrrrrrttttttttt...
Lamunan Erin buyar ketika menyadari ada yang menghubunginya, Ia tercengang ketika melihat nama 'Fahriano' yang muncul pada layar ponselnya. Ia terdiam sesaat. Memikirkan ucapan Yiko sore tadi.
Erin mngacuhkan dua panggilan dari Fahriano, panggilan ketiga Erin menghela nafas panjang dan menekan flip tombol answer.
"Ya, kenapa?"
"rin' kamu marah sama aku gara-gara waktu itu aku masih tuduh kamu itu Yiko?"
"ngg... Kata siapa?"
"Yiko yang bilang tadi sama aku. Maafin aku ya 'rin..."
Erin hanya diam, tak dapat bicara apa-apa. Kemudian Ia menekan flip End dari ponselnya. Fahriano kembali mencoba menghubungi Erin, tapi diabaikan.
"Kalau bukan karena kamu sedang mendekati Yiko, pasti kamu gak akan lakuin semua ini ke aku." Batin Erin. Wajahnya tertunduk.
Esok harinya Erin tidak pergi kekantor, Ia sibuk packing dirumah. Ternyata Ia akan benar-benar pergi kebandung malam ini.
Drrrrrttttttt.... Drrrrrrrrrtttttttttt....
Perasaan Erin semakin kacau ketika melihat nama 'Yiko' yang muncul dilayar ponselnya. Dengan berat hati, Erin menekan flip answer.
"Erin, sore nanti Fahriano mau ajak kamu ketemu dan kamu harus mau. Harus mau!" Ujar Yiko tanpa memberi kesempatan pada Erin untuk bicara. Telpon terputus.
Sorepun tiba, pukul 17:47 Fahriano menghubungi Erin dan mengajaknya bertemu disebuah restoran fast food didekat rumah Erin.
Sesampainya Erin direstoran fast food yang memiliki lambang M itu, ternyata Erin tidak dapat menemukan Fahriano karna ramainya orang disana. Erin melihat Fahriano duduk dimeja tengah, Ia terlihat sedang melahap sebuah cheese burger dan soft drink. Erin hanya melewatinya dan keluar dari ruangan yang ramai itu.
Erin duduk dikursi luar dan mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Fahriano.
"Aku sdh sampai, skrg aku duduk dibangku luar krn didlm ramai bgt."
10 menit kemudian Erin melihat Fahriano keluar membawa burger dan soft drinknya, lallu menghampiri Erin.
"Kamu gak makan dulu 'rin?"
"Gak usah makasih, aku masih kenyang"
"emm... kamu beneran mau kebandung malam ini?"
"Iya."
"Kenapa harus kebandung? Memang disini kenapa?"
"Gak apa-apa sih, aku cuma mau cari suasana baru aja."
"eumm... oh iya aku janjian sama Yiko juga loh disini."
"oh gitu. Yaudah aku pulang yah, aku masih harus packing."
"Bentar 'rin, aku telpon Yiko dulu yah"
Fahriano mengambil ponselnya dan menghubungi Yiko. Tak lama kemudian Yiko muncul dihadapan mereka. Erin tak bisa berkata apa-apa, lidahnya kelu.
"Kamu udah maafin Fahriano kan 'rin?" Sahut Yiko sambil merangkul Fahriano yang tengah duduk disamping Erin.
"Ya." Jawab Erin singkat dan Ia bangkit dari duduknya meninggalkan Fahriano dengan Yiko.
Kini perasaannya hancur, cinta dan sayang yang mulai tumbuh dihati Erin kini harus rusak dan harus merasakan kecewa untuk yang kedua kalinya.
Berkali-kali Erin melihat ponselnya dan berharap Fahriano menghubunginya, tapi kenyataan pahit yang harus Ia terima. Tak ada satupun pesan atau panggilan dari Fahriano kekasihnya.
Jakarta, 20 Januari 2014
Erin membuka buku agendanya. Ia menemukan foto Fahriano disana, Ia memandangi foto itu sesaat. Air matanya mengalir dipipi putihnya.
"...Pokoknya kalau aku gak bilang putus berarti kita gak putus. Kamu jangan bilang gitu lagi ya?!"
Mengingat kata-kata itu tangis Erin pecah, Ia menangis histeris didalam kamarnya sambil menatap foto Fahriano. Bahkan sampai saat ini pun Fahriano tidak memberikan kabar apapun pada Erin.
"Kamu jahat Fahriano, ternyata kamu memang gak pernah sayang sama aku. Kamu berbuat seperti itu semata-mata karna hanya ingin mendapatkan Yiko melalui aku kan?"
Erin mengirim pesan itu kesemua akun milik Fahriano dan ke nomor ponselnya. Namun, balasan yang sangat menyakitkan yang diterima oleh Erin dari nomor ponsel Fahriano.
"Iya memang aku jahat, aku manfaatin kamu untuk dapatkan Yiko. Sekarang jangan ganggu aku lagi ya Mbak, aku udah punya pacar baru."
Tangis Erin semakin menjadi-jadi. Sejak hari itu Erin memutuskan untuk melupakan Fahriano dan menghapus nama Fahriano dan Yiko dalam daftar orang yang pernah ada dalam kehidupannya. Namun, Ia tidak pernah bisa menghapus nama Fahriano dari hidupnya. Semakin Ia berkeras ingin melupakan Fahriano, Justru kenangan-kenangan bersama pria itu nampak semakin jelas.
~END~
No comments:
Post a Comment